Mbah Sukinem

Siapa sih yang tidak butuh uang? Banyak yang bilang bahwa uang bisa memberikan segalanya, bahkan kebahagiaan sekali pun. Sebagian orang menyetujuinya, dan sisanya justru berpendapat sebaliknya. Ah, apa pun itu, uang memang selalu menjadi masalah, apalagi jika sudah berurusan dengan keserakahan yang tidak berujung. Namun, uang tidak akan menjadi beban masalah bagi mereka yang pandai bersyukur.

Sore itu, Mbah Sukinem menatap langit yang mendung. Perlahan matanya tertuju pada rintik air yang mulai membasahi seluruh pijakan makhluk bumi. Ah, hujan, pikirnya. Ia mulai mengangkut makanan jualannya ke tempat yang lebih teduh. Sulit baginya karena punggungnya tidak sekuat saat ia masih belia. Namun, senyum masih saja tertorehkan pada bibirnya yang tipis. “Alhamdulillah..”, ujarnya.

Sosok Mbah Sukinem

Orang–orang yang selalu pergi ke Pasar Rejowinangun sudah pasti mengenali sosok yang satu ini. Mbah Sukinem, begitu panggilannya, merupakan seorang pedagang peyek yang berusia kurang lebih 75 tahun. Ia selalu berjualan di pojokan pintu masuk Pasar Rejowinangun, Magelang. Tidak seperti pedagang lainnya, ia menghamparkan satu dua lembar koran untuk menjajakan dagangannya. Meskipu demikian, Mbah Sukinem tetap bersyukur karena masih diberi kekuatan untuk tetap berjuang.

Beberapa orang mungkin bertanya-tanya, mengapa di usianya yang sudah renta Mbah Sukinem masih saja berjualan. Konon, ia tidak memiliki suami dan anak, sehingga mau tidak mau ia harus berjuang seorang diri untuk tetap bisa bertahan hidup. Hidup terkadang seperti tidak adil, namun Mbah Sukinem tidak pernah mengeluhkan hal itu. Apapun yang terjadi pada dirinya, sosok yang tinggal di Jl. Paten jurang RT. 01, Magelang itu  selalu bersyukur.

Mbah Sukinem menjajakan dagangannya tidak setiap hari. Ia berjualan setiap dua hari sekali. Hari ini ia membuat dagangannya, dan keesokan harinya ia menjualnya. Ia begitu semangat menyapa setiap orang yang melintas di depannya. Sesekali ia tersenyum meskipun orang tersebut mengabaikannya. Bahkan ia sesekali memberikan sebagian dagangannya pada penjual lain jika tidak habis.

Saat ada pembeli yang tertarik dengan dagangannya, Mbah Sukinem akan dengan senang hati melayani Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan saat berinteraksi dengan Mbah. Terkadang, Mbah Sukinem berbicara ngalor ngidul, bahkan sering lupa apa yang sedang ia bicarakan. Ya, namanya juga faktor usia. Tidak ada yang bisa menolak takdir yang sudah digariskan.

Kebaikan untuk Mbah Sukinem

Perjuangan hidup Mbah Sukinem bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Ia senantiasa berbuat baik untuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Untuk itu, kita bisa bersama-sama #AwaliDenganKebaikan bersama Allianz. Caranya, yaitu dengan mulai menggunakan produk asuransi syariah AlliSya Protection Plus. Kita bisa memberikan perlindungan jiwa secara maksimal, ringan, adil, dan fleksibel pada orang-orang tercinta.

Selain itu, Asuransi Syariah Indonesia Allianz juga sangat bermanfaat bagi orang banyak. Dengan adanya fitur wakaf pada asuransi tersebut, kita bisa memberikan sebagian dana musibah untuk membantu peserta asuransi lain yang lebih membutuhkan. Dengan memulai kebaikan ini, kita pun bisa mendapatkan kebaikan yang tidak terhingga.

Untuk itu, yuk lakukan kebaikan mulai dari sekarang. Sekecil apapun aksi kebaikan yang kita lakukan, akan sangat berarti untuk orang-orang yang membutuhkan. Dengan melakukan kebaikan terhadap sesama, kita bisa membantu Mbah Sukinem untuk mendapatkan kebaikan luar biasa lainnya seperti mendapatkan paket umroh gratis dari Allianz. Yuk, mulai apresiasi kebaikan orang-orang di sekitar kita!